Night

Wahai Malam, aku mengagumimu karena kau “adalah”

Dalam bahasa yang berbeda, yang tak sampai aku pahami

Biarlah apa menjadi mengapa

Karena dimana dan kapan adalah kebenaran.

 

Puisi tak mampu memperdaya kata-kata

Selogan tak mampu mencapai tema

Jiwa tak mampu mendengar sya’ir gelap tubuh

Bendera tak mampu membaca gambar

Adalah gelap dalam gelap

 

Suing Hamba,

Tebarkan pesona dalam gemerlap malam

Kuasa tapi menjadi budak siang

Idealisme kosong cap kambing busuk tak bertuhan

Haruskah mengapa menjadi pahlawan?

 

Suing Hamba,

Dinding-dinding suci tak mampu membacanya

Seolah hanya mendekap dalam gemercap panggilan

Sujud tak menentukan identitas

Haruskah apa menjadi pahlawan?

 

Suing Hamba,

Ucapan menjadi pola piker

Gulungan-gulungan hambal tulisan menjadi pengokoh

Dalam otak yang penuh kejenuhan

Haruskah Dimana menjadi pahlawan?

 

Suing Hamba,

Biarlah manusia menjadi sahaya

Tanpa mereka, manusia akan hidup

Tanpa mereka pula, manusia akan mati

Dan merekalah manusia selesai

Sampai hidup akan menjadi mati

Dan mati menjadi hidup.

Itulah, “Suing Hamba”

 

Dan kau adalah masih dan sementara waktu menjadi manusia. Semoga.

kutip-ichoe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: