laporan praktikum tentang sel

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

 

SEL

 

Dosen Pembimbing :

Evika Sandi Savitri, MP

Disusun Oleh :

Khoirul Mufid

10620092

 

 

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2010

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Anatomi mengenai struktur tumbuhan melibatkan   satuan   fungsi organik

terkecil dalam tumbuhan itu sendiri yaitu sel. Sel tumbuhan dibatasi oleh dinding sel yang didalamnya terdapat tempat berlangsungnya reaksi kimia yang diperlukan untuk kehidupan sel. Pengamatan tentang sel hanya dapat terlihat menggunakan mikroskop. Dalam hal ini, mempelajari ukuran dan bentuk sel merupakan hal penting, namun tanpa memahami isi dari sel (unit sel) serta hubungannya dengan sel-sel lain yang melapisinya tidak akan didapat pengetahuan yang mendalam tentang sel itu sendiri (Hidayat, 1995).

1.2  Rumusan Masalah

Beberapa masalah yang ada pada praktikum ini dapat dirumuskan sebagai

Berikut :

  1. Bagaimana bentuk-bentuk sel dan komponennya (dinding sel dan lumen sel) ?
  2. Apa isi dari sel terutama isi dari komponen protoplasmik (inti, kloroplas, plastida lain, dan aliran sitoplasma) ?
  3. Terdiri dari Apa sajakah komponen non protoplasmik penyusun sel (vakuola, bentuk kristal kalsium oksalat, butir amilum, lendir minyak dan butir aleuron) ?
  4. Bagaimana cara ,membedakan sel hidup dan sel mati ?

1.3  Tujuan

Praktikum Anatomi tumbuhan tentang sel ini memiliki beberapa tujuan, antara lain :

  1. Mengamati bentuk-bentuk sel dan komponen sel seperti dinding sel dan lumen sel.
  2. mengamati isi sel terutama komponen protoplasmik seperti inti, kloroplas, plastida lain dan aliran dari sitoplasmanya.
  3. Mengamati komponen non protoplasmik penyusun sel antara lain vakuola dan isinya, benda-benda ergastik seperti bentuk kristal kalsium oksalat, butir amilum, lendir, minyak dan butir aleuron.
  4. Membedakan sel hidup dan sel mati.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

2.1 Struktur Sel

            Ilmu yang mempelajari tentang sel disebut sitologi. Semua organisme yang hidup terdiri atas sel, baik uniselular maupun multiselular. Setiap sel merupakan unit fungsional dan structural terkecil dari bentuk hidup (Sumardi,1993).

Sel tumbuhan mempunyai bentuk, ukuran dan struktur yang bervariasi dan sangat rumit. Walaupun demikian, semua mempunyai persamaan dalam beberapa segi dasar. Tumbuhan dan hewan merupakan organisme yang tubuhnya tersusun oleh sel-sel. Sel tumbuhan dan sel hewan merupakan variasi dari satu tipe unit dasar atau satuan struktur. Hal ini menjadi dasar teori tentang sel yang dikemukakan oleh Schwann dan Schleiden pada tahun 1838. berdasarkan konsep tersebut, sel merupakan kesatuan struktur dan fungsi organisme hidup karena sel mempunyai kesamaan dalam hal pola susunan metabolisme dan makromolekul. Perbedaan pokok antara sel tumbuhan dan sel hewan adalah pada dinding selnya, sel hewan hanya memiliki dinding sel yang berupa plasma sedangkan sel tumbuhan memiliki dinding sel yang nyata. Selain perbedaan tersebut, pada sel tumbuhan dijumpai adanya plastida serta vakuola sel yang dapat membesar, sedangkan pada sel hewan tidak demikian. Pada dasarnya sel hidup mempunyai kemampuan memperbanyak diri (Sumardi,1993).

2.2 Protoplas

            Protoplas merupakan bagian sel yang ada disebelah dalam dinding sel. Protoplas tersusun oleh bahan hidup dalam bentuk sederhana, yang disebut protoplasma. Pada sel tumbuhan protoplas terdiri atas komponen protoplasma dan komponen non protoplasma (Sumardi,1993).

2.2.1 Komponen Protoplasma

            Protoplasma memiliki beberapa komponen penyusun yang terdiri atas sitoplasma, inti sel, butir-butir plastida dan mitokondria (Kartasapoetra, 1991):

  1. Sitoplasma merupakan benda hidup yang terdapat dalam sel, berbentuk cairan yang agak kental. Pada plasma terdapat 3 lapisan yaitu, Ektoplasma, Tonoplasma dan lapisan polioplasma.
  2. Inti sel (nucleus), inti sel berbentuk bulat telur, merupakan bagian yang penting dari protoplas karena merupakan sentral segala proses yang berlangsung dalam sel tersebut. Pada inti sel terdapat membran, retikulum, dan nukleolus.
  3. Butir-butir plastida, butir-butir plastida umumnya terdapat pada sel tumbuh-tumbuhan yang masih muda, didalam sitoplasma tetapi diluar inti sel. Plastida sendiri dibagi menjadi 4 macam, yaitu leukoplas, amiloplas, khromoplas dan proteinoplas (Kartasapoetra, 1991):
    1. Leukoplas, merupakan plastida yang tidak berwarna, biasanya terdapat pada sel-sel tumbuhan yang tidak terkena sinar matahari atau radiasi. Berbentuk bulat kecil dan apabila terkena radiasi dapat berubah menjadi kloroplas.
    2. Amiloplas, berasal dari leukoplas, dapat membentuk amilum atau zat tepung. Plastida ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan. Biasanya terdapat pada akar-akar yang dapat menyimpan makanan seperti kentang, ubi jalar dsb.
    3. Kloroplas, merupakan plastida yang berbentuk lensa, terdapat dalam sel –sel yang letaknya pada jaringan terluar dekat batas/tepi. Plastida ini berfungsi penting dalam proses fotosintesis dan pembentukan prrotein. Kloroplas mengandung dua pigmen yaitu klorofil dan karotinoid.
    4. Khromoplas, perubahan dari leukoplas dan khloroplas dapat menjadi khromoplas, seperti perubahan warna yang terjadi pada proses pemasakan buah. Zat warna atau pigmen pada khromoplas merupakan zat padat yang berbentuk seperti kristal, bentuk kristal tersebut dapat berbentuk jarum dan persegi (Kartasapoetra, 1991).
    5. Mitokondria  merupakan organel yang dapat dilihat dengan mikroskop cahaya apabila sel hidup diwarnai dengan Janus Green B. Memiliki bentuk yang bermacam-macam, yaitu bulat memanjang, terkadang seperti busur dan terdapat bebas pada sitoplasma. Mempunyai selaput rangkap, selaput dalamnya mengalami percabangan atau melipat-lipat ke arah dalam yang disebut kristal. Mitokondria memiliki fungsi untuk pernafasan. Di dalamnya terdapat enzim-enzim yang berperan dalam siklus krebs (Sumardi,1993).

2.2.2 Komponen non Protoplasma

Kebalikan dari protoplasma, komponen non protoplasma merupakan benda-benda tidak hidup yang berada dalam sel. Benda-benda tersebut dapat berada dalam dalam vakuola, dalam plasma sel dan plastida. Komponen non protoplasmik ini bisa berupa zat cair maupun padat (Kartasapoetra, 1991).

2.2.2.1 Karbohidrat

Selulose dan zat tepung merupakan bahan ergastik yang pada prinsipnya terdapat didalam protoplas. Selulose ini sangat penting untuk menyusun dinding sel, sedangkan tepung untuk cadangan makanan. Zat tepung dijumpai dalam sitoplasma, terdapat sebagai butir-butir baik didalam leukoplas maupun kloroplas.

Butir tepung memiliki lapisan-lapisan, dan lapisan-lapian itu berhenti pada suatu titik yang dinamakan hilum. Letaknya bisa ditengah (kosentrik) misalnya pada ubi jalar atau dibagian tepi butir tepung (eksentrik) misalnya pada Marantha.

Butir tepung dapat tunggal, majemuk dan setengah majemuk. Butir tepung terdapat pada biji, sel-sel parenkim jaringan sekunder pada akar maupun batang, dan tempat penyimpanan cadangan makanan seperti akar, tuber, rizoma, dan kormus (Sumardi,1993).

2.2.2.2 Protein

Protein merupakan bahan utama yang menyusun protoplasma yang hidup. Protein diketahui sebagai bahan cadangan dalam bentuk amorf atau kristal. Pada beberapa macam biji, protein terdapat sebagai aleuron dan tersebar didalam sel. Adapula aleuron yang terdapat didalam sel, dan sel tersebut menyusun suatu lapisan yang disebut lapisan aleuron (Sumardi,1993).

2.2.2.3 Minyak dan substansinya

Bahan ergastik ini tersebar pada seluruh tubuh tumbuhan akan tetapi jumlahnya hanya sedikit. Lilin, suberin dan kutin merupakan minyak yang digunakan sebagai zat pelindung pada dinding sel (Sumardi,1993).

2.2.2.4 Kristal

Kristal ini terdapat dalam sel berbagai tumbuhan. Biasanya terdapat dalam sel korteks, akan tetapi terkadang juga dapat ditemukan pada sel-sel parenkim floem dan parenkim xylem.

Kristal-kristal ini terdapat dalam vakuola sel atau plasma selnya. Kristal-kristal itu memiliki berbagai bentuk, antara lain :

  1. Kristal dengan bentuk prisma teratur, biasanya terdapat dalam sel-sel dibawah epidermis dari daun jeruk.
  2. Kristal dengan bentuk jarum, kristal ini banyak ditemukan pada sel-sel daun bunga pukul empat.
  3. Kristal dengan bentuk butiran kecil, kristal ini biasanya disebut kristal pasir, banyak ditemukan dalam sel-sel daun serta tangkai daun ri bayam.
  4. Kristal dengan bentuk rafida, merupakan kristal berbentuk jarum yang letaknya sejajar, biasanya terdapat pada sel-sel parenkim dari jaringan lunak, selnya mengandung lendir dan berdinding tipis. Misalnya pada endocarp buah aren.
  5. Kristal dengan bentuk kelenjar, kristal ini disebut juga kristal drus yang hanya terdapat pada sel-sel tertentu dengan bentuk yang tidak teratur (dapat berbentuk bintang atau lainnya). Kristal ini biasanya ditemukan pada tangkai daun pepaya dan bangsa kaktus (Kartasapoetra, 1991).

2.2.2.5 Tanin

Tanin merupakan sekelompok derivat fenol  yang heterogen yang dapat dijumpai terutama pada daun, xilem, floem, periderm akar dan batang, dan pada buah yang belum masak. Letaknya didalam vakuola sel atau dalam bentuk tetes-tetes kecil pada sitoplasma yang melebur  (Sumardi,1993).

2.3 Dinding Sel

Dinding sel pada tumbuhan merupakan struktur sel yang paling menyolok dilihat dari bawah mikroskop. Adanya dinding sel yang nyata merupakan perbedaan pokok antara sel tumbuhan dengan sel hewan karena pada sel hewan tidak dijumpai adanya dinding sel, akan tetapi, sel hewan dan sel tumbuhan sama-sama memiliki membran plasma atau lapisan terluar sitoplasma yang berbeda dengan dinding sel. Pada hewan lapisan ini terkadang dinamai dinding sel, tetapi membran plasma merupakan bagian dari sel yang hidup dan bersifat fleksibel, sedangkan dinding sel cenderung kaku dan tetap (Tjitrosomo, 1983).

Dinding sel pada tumbuhan mempunyai fungsi dalam mempertahankan turgor tekanan dinding yang mempertahankan potensial air dan berfungsi dalam mekanisme pengangkutan air mineral pada tumbuhan.

 

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

            Praktikum struktur pertumbuhan tumbuhan tentang anatomi tumbuhan (sel) ini dilakukan pada hari Senin Tanggal 12 April 2010 di Laboratorium Biologi dasar BUniversitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

            Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :

  1. Mikroskop majemuk                      1 buah
  2. Kaca preparat                                8 buah
  3. Deck glass                                     8  buah
  4. Objek Glass                                   8 Buah
  5. Pisau cutter                                   2 buah
  6. Pipet tetes                                     1 buah

3.2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain :

  1. Preparat akar wortel (Daucus carrota)                 1 buah
  2. Preparat umbi kentang (Solanum tuberosum)       1 buah
  3. Preparat batang bayam (Amaranthus sp)              1 buah
  4. Preparat daun kaktus (Opuntia sp)                       1 buah
  5. Preparat daun Hydrilla verticillata                        1 buah
  6. Air                                                                         Secukupnya

3.3 Cara Kerja

3.3.1        Mengamati preparat akar wortel (Daucus carrota).

  1. Dibuat irisan setipis mungkin pada akar wortel
  2. Diletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemuudian ditutup menggunakan deck glass.
  3. Diamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10.
  4. Digambar hasil pengamatan.
  5. Ditunjukan kromoplas, dinding sel dan ruang selnya.

3.3.2 Mengamati preparat umbi kentang (Solanum tuberosum)

  1. Dibuat irisan setipis mungkin pada umbi kentang
  2. Diletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemuudian ditutup menggunakan deck glass.
  3. Diamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10.
  4. Diamati butir-butir amilum dan letaknya.
  5. Dihitung jumlah hillum dan mengamati lamellanya.
  6. Digambar hasil pengamatan.

 

3.3.3 Mengamati preparat batang bayam (Amaranthus sp)

  1. Dibuat irisan setipis mungkin pada batang bayam
  2. Diletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemuudian ditutup menggunakan deck glass.
  3. Digamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10.
  4. Digambar hasil pengamatan.
  5. dituunjukan adanya kristal-kristal pasir.

3.3.4 Mengamati preparat daun kaktus (Opuntia sp)

  1. Dibuat irisan setipis mungkin pada daun kaktus
  2. Diletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemuudian ditutup menggunakan deck glass.
  3. Diamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10.
  4. Digambar hasil pengamatan.
  5. Ditunjukan adanya kristal-kristal drus.

3.3.5 Mengamati preparat daun Hydrilla verticillata

  1. Diambil satu helai daun Hydrilla yang masih segar, terutama pucuk-pucuknya.
  2. Diletakkan daun tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemuudian ditutup menggunakan deck glass.
  3. Diamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10.
  4. Digambar hasil pengamatan.
  5. Ditunjukan adanya kloroplas, aliran plasma dan arahnya serta menggambar dan menyebutkan organel-organel yang lain bila ada.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

  4.1    Hasil Pengamatan

1.Kentang (Solanum tuberosum)

  1. Dinding sel
  2. Helium
  3. Tunggal
  4. Setengah majemuk
  5. Warna kuning

2.Hidrilla (Hydrilla verticillata)

  1. Dinding sel
  2. Kloroplas hijau
  3. Aliran plasma (kiri ke kanan)
  1. Warna hijau

3.Wortel (Daucus carota)

  1. Dinding sel
  2. Kromoplas
  3. Bentuk batang
  4. Bentuk bulat
  5. Warna orange

4.Batang bayam (Amaranthus Sp)

  1. Kristal-kristal pasir
  2. Dinding sel
  3. Warna putih kecoklatan

5.Kaktus (Opuntia sp.)

  1. Dinding sel
  2. Kristal drus
  3. Piramida kecil
  4. Warna hijau

 

 

4.2 Pembahasan

4.2.1        Preparat akar wortel (Daucus carrota)

Pada pratikum kali ini dengan bahan wortel (Daucus carota), setelah kami melakukuan penelitian dibawah pengamatan mikroskop dengan perbesaran 40×10, maka dapat diamati adanya kromoplas. Adapun bentuk kromoplas ini bervariasi, ada yang berbentuk batang dan ada juga yang berbentuk bulat dan berwarna orange.  Pada preparat irisan akar wortel yang kami buat, ditemukan kromoplast  berwarna orange yang terdapat di sela-sela sel.

Hal ini sesuai dengan (Hidayat, 1995) yang menyatakan bahwa Warna orange pada kromoplas disebabkan oleh kandungan karotinoidnya. Kromoplast sendiri biasnya berasal dari kloroplas, tetapi juga dapat berasal dari proplastida. Diferensiasi kloroplas menjadi kromoplas bergantung pada sintsis dan penempatan pigmen karotinoid yang ada pada akar wortel. Perkembangan pigmen itu juga berkaitan dengan modifikasi (perombakan) tilakoid. Dalam proses ini, globula lipid bertambah banyak dan berkumpul menjadi kristaloid karoten pada akar wortel (Hidayat, 1995).

4.2.2 Preparat umbi kentang (Solanum tuberosum)           

Pada preparat umbi kentang yang kami amati, ditemukan butir pati yang

bersifat tunggal denggan beberapa lapis lamela yang membentuk satu hilum dipinggiran selnya.

Hal ini sesuai dengan (Hidayat, 1995) yang menyatakan bahwa pada beberapa tempat, kloroplas dapat membentuk butir pati yang besar sebagai cadangan makanan. Cadangan makanan ini paling banyak ditemukan pada leukoplast umbi akar, umbi batang, rizoma dan biji. Amilum dapat diamati dengan mudah karena memiliki warna biru kehitaman bila diberi pewarna iodium. Butir yang besar menunjukan lapisan yng mengelilingi sebuah titik ditengah yaitu hilum. Hilum ini bisa berada ditengah butir pati atau agak ke tepi. Retakan yng sering terlihat memiliki arah radial dari hilum terjadi akibat dehidrasi butir pati yang dianggap sebagai stratifikasi kadar air yang ada pada butir pati tersebut. Posisi, bentuk dan ukuran butir pati ditentukan oleh jenis tumbuhan yang bersangkutan.

4.2.3 Preparat daun kaktus (Opuntia sp)

Pada preparat daun kaktus yang kami amati ditemukan kristal oksalat yang

berbentuk tidak beraturan yang disebut dengan kristal drus. Kristal-kristal ini letaknya tidak beraturan, terkadang berada dipinggiran dan terkadang berada ditengah sel.

Hal ini sesuai dengan (Kartasapoetra, 1991) yang menyatakan bahwa kristal merupakan bahan ergastik yang terdapat dalam sel berbagai tumbuhan. Biasanya terdapat dalam sel korteks, akan tetapi terkadang juga dapat ditemukan pada sel-sel parenkim floem dan parenkim xylem. Kristal dengan bentuk kelenjar ini, disebut juga kristal drus yang hanya terdapat pada sel-sel tertentu dengan bentuk yang tidak teratur (dapat berbentuk bintang atau lainnya). Kristal ini biasanya ditemukan pada tangkai daun pepaya dan bangsa kaktus.

4.2.4 Preparat daun Hydrilla verticillata

Pada preparat daun Hydrilla verticillata yang kami amati ditemukan aliran

plasma yang arahnya berlawanan dengan arah jarum jam. Dan mempunayai dinding sel dan Kloroplas yang berwarna  hijau.

Pada literatur (Tjitrosomo, 1983) menyatakan bahwa Sitoplasma pada kebanyakan sel, beberapa saat pada kehidupannya memperlihatkan aliran protoplasma. Dibawah mikroskop cairan ini tampak mengalir dalam sel dengan gerakan yang terus menerus. Gerakan ini dapat berupa aliran setempat saja atau berupa sirkulasi umum. Ketika protoplasma mengalir, plastida terbawa arus karena plastida merupakan benda itu tidak memiliki daya gerak. Aliran protoplasma ini dijadikan petunjuk adanya kehidupan didalam sel, karena adanya aliran tersebut membutuhkan energi.

4.2.5                                                           Batang (Amaranthus Sp) Bayam

Pada pratikum ini dengan bahan batang bayam irisan melintang batang bayam (Amaranthus Sp), maka dapat diamati adanya kristal-kristal pasir yang jumlahnya banyak dan berwarna putih kecoklatan.

Hasi pengamatan ini sesuai dengan Kartasapoetra (1991) yang menyatakan bahwa Kristal ini terdapat dalam sel berbagai tumbuhan. Biasanya terdapat dalam sel korteks, akan tetapi terkadang juga dapat ditemukan pada sel-sel parenkim floem dan parenkim xylem. Kristal-kristal ini terdapat dalam vakuola sel atau plasma selnya. Kristal-kristal itu memiliki berbagai bentuk, salah satunya adalah kristal dengan bentuk butiran kecil, kristal ini biasanya disebut kristal pasir, banyak ditemukan dalam sel-sel daun serta tangkai daun bayam.

BAB V

PENUTUP

5.1  Kesimpulan

Setelah dilakukan praktikum ini kita dapat menjawab tujuan dari praktikum ini, yakni dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

Sel merupakan unit terkecil dari suatu makhluk hidup. Komponen sel dibedakan menjadi dua :

  1. Komponen protoplasmic

Yaitu seperti sitoplasma, inti sel, kloroplas, mitokondria, aliran sitoplasma yang pada praktikum ini seperti pada tanaman hydrilla, dan plastida, seperti amiloplas, leukoplas, kloroplas, kromoplas dan lainnya,

  1. Komponen non protoplasmic

Yaitu seperti karbohidrat yang banyak mengandung butir-butir tepung, contohnya pada kentang (Solanum tuberosum), protein, lemak, minyak, dan kristal-kristal. Seperti kristal pasir pada batang bayam (Amaranthus Sp) dan kristal drus pada kaktus (Opuntia sp.).

 

DAFTAR PUSTAKA

Fahn, A. Anatomi Tumbuhan edisi ke tiga. Yogyakarta : UGM Press

Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : Penerbit ITB

Kartasapoetra, Ir. A.G. 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan (tentang Sel dan Jaringan). Jakarta : PT. Rineka Cipta

Soriah, Iis. 2006. Sifat Mikobiologi dan Organleptik salam Daging Domba Dan Sapi Dengan Penambahan Wortel. Bogor: ITB

Sumardi, Issrep. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta : UGM Press

Tjitrosomo, Siti Sutarmi. Prof. Dr. Ir. H. 1983. Botani Umum 1. Bandung : Angkasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: