LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

 

“ JARINGAN ANGKUT “

Dosen Pembimbing :

Ruri Siti Resmisari S. Hut. M,Si

 

Oleh :

Khoirul Mufid

10620092

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Pada tumbuhan berpembuluh, pengangkutan air serta garam-garam mineral maupun hasil fotosintesis dilakukan oleh jaringan pembuluh atau jaringan angkut yang terdiri dari dua kelompok sel yang memiliki asal yang sama. Namun kedua pembuluh angkut tersebut berbeda bentuk, struktur dinding dan isi selnya (Savitri, 2008).

Jaringan pengangkut merupakan jaringan yang khusus, yang kegunaanya bagi tumbuh-tumbuhan sebagai jaringan untuk mengangkut zat-zat mineral (zat-zat hara dan air) yang diserap oleh akar dari tanah atau zat-zat makanan yang telah dihasilkan pada daun untuk disalurkan ke bagian-bagian lain untuk hidup dan berkembang (Hidayat, 1995).

Jaringan angkut tersebut dapat berupa xylem (pembuluh kayu) dan floem (pembuluh tapis). Xylem mempunyai fungsi utama mengangkut air dan zat-zat hara yang terlarut didalamnya. Sedangkan floem mempunyai fungsi utama mengangkut zat makanan hasil fotosintesis keseluruh bagian tumbuhan yang membutuhkan (Savitri, 2008).

Pada praktikum kali ini kita akan mempelajari tentang jaringan pengangkut agar kita dapat mengamati tentang komponen-komponen jaringan angkut xylem dan jaringan angkut floem, susunan berkas pengangkut dalam organ tumbuhan dan macam-macam tipe berkas pengangkut.

 

1.2  Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada praktikum kali ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana komponen-komponen jaringan angkut xylem (unsur-unsur vasal)?
  2. Bagaimana komponen-komponen jaringan angkut floem (unsur-unsur kibral)?
  3. Bagaimana susunan berkas pengangkut dalam organ tumbuhan?
  4. Bagaimana macam-macam tipe berkas pengangkut?

1.3  Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengamati komponen-komponen jaringan angkut xylem (unsur-unsur vasal).
  2. Untuk mengamati komponen-komponen jaringan angkut floem (unsur-unsur kibral).
  3. Untuk mengamati susunan berkas pengangkut dalam organ tumbuhan.
  4. Untuk mengamati  macam-macam tipe berkas pengangkut.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

2.1 Jaringan Angkut

Jaringan angkut pada tumbuhan tingkat tinggi terdiri dari xylem dan floem. Pada xylem terdapat unsur-unsur xylem yang berupa trakeid, trakeida dan unsur-unsur lain seperti serabut dan parenkim. Xylem memiliki fungsi utama untuk mengangkut air dan zat hara dari dalam tanah. Sedangkan floem berfungsi mengangkut hasil fotosintesis ke seluruh bagian yang membutuhkan (Nugroho, 2006).

Baik xylem maupun floem, biasanya membentuk berkas atau untaian dalam tubuh tumbuhan dan biasanya sejajar dengan sumbu organ yang menjadi tempatnya. Pada batang, berkas xylem umumnya bergabung dengan berkas floem dalam suatu ikatan berkas pembuluh yang berkesinambungan diseluruh tubuh tumbuhan. Baik pada akar, daun, batang hingga cabangnya yang terkecil (Savitri, 2008).

 

2.2 Macam-macam Jaringan Angkut

2.2.1 Xylem

Jaringan pengangkut merupakan jaringan yang khusus dalam kegunaannya bagi tumbuh-tumbuhan sebagai jaringan untuk mengangkut zat-zat mineral (zat-zat hara dan air) yang diserap oleh akar dari tanah atau zat-zat makanan yang telah dihasilkan pada daun untuk disalurkan ke bagian-bagian lain untuk hidup dan berkembang. Jaringan pengangkut hanya terdapat pada tumbuhan tingkat tinggi, sedangkan pada tumbuhan tingkat rendah tidak terdapat. Hal ini karena pada tumbuhan tingkat ini, pengangkutan air dan zat-zat makanan cukup dilangsungkan dari sel ke sel. Jaringan pengangkut terbentuk dari sel-sel yang kedudukan atau letaknya membentang menurut arah pengangkutan (Sutrian, 1992).

Xylem merupakan suatu jaringan pengangkut yang kompleks. Terdiri dari berbagai macam bentuk sel. Pada umumnya sel-sel penyusun xylem merupakan sel-sel yang telah mati dengan dinding sel yang sangat tebal dan tersusun dari zat lignin yang dapat juga berfungsi sebagai jaringan penguat. Unsur-unsur  xylem terdiri  dari unsur trakea, serat xylem dan parenkim xylem (Nugroho, 2006).

Pada pertumbuhan primer, xylem merupakan differensiasi dari prokambium yang terdiri dari sel-sel meristematik, kaya sitoplasma, dan selnya memanjang kearah longitudinal organ. Elemen pertama dari xylem primer adalah protoxylem yang selanjutnya berkembang menjadi metaxylem (Iserep, 1993).

Xylem merupakan jaringan kompleks yang tersusun atas dua tipe sel yaitu trakeid dan unsur pembuluh. Trakeid dan unsur pembuluh tersusun saling bertumpuk pada ujungnya membentuk suatu saluran. Saluran tersebut berfungsi mengalirkan air dari akar menuju batangdan daun untuk proses fotosintesis (Hidayat, 1995).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            Gambar jaringan xylem (Fahn, 1991)

Susunan xylem merupakan suatu jaringan pengangkut yang serba kompleks, terdiri dari berbagai bentuk sel. Selain itu ternyata sel-selnya itu ada yang telah mati dan ada pula yang masih hidup. Akan tetapi umunya sel-sel penyusun xylem telah mati dengan selnya yang tebal, mengandung lignin. Sehingga para ahli beranggapan bahwa fungsi xylem selain sebagai jaringan pengangkut air dan zat-zat hara adalah juga sebagai jaringan penguat (Sutrian, 1992).

Xylem terdiri atas beberapa tipe sel yang berbeda dan masing-masing juga disebut sebagai elemen xylem atau unsur xylem. Unsur xylem terdiri dari (Savitri, 2008) :

 

 

1)   Trakea dan Trakeida

Trakea dan trakeida pada xylem berupa sel-sel memanjang, berdinding tipis, dan memiliki sedikit protoplasma ketika telah dewasa. Penebalan dinding pada unsur trakea xylem ini dapat berupa penebalan cincin, spiral, karang dan sebagainya (Hidayat, 1995).

Trakeida berasal dari sel tunggal. Selnya panjang dengan ujung runcing. Ketika dewasa, sel-sel pada trakeida merupakan sel mati dan tidak mengandung kloroplas. Trakeida dapat dibedakan dari trakea karena tidak mengalami perforasi dan hanya mempunyai pasangan noktah pada dindingnya, sedangkan trakea selnya mengalami perforasi pada tempat tertentu pada perbatasannya dengan trakea yang lain (Iserep, 1993).

Trakeida tersusun atas sel-sel yang kurang lebih memanjang, penampang melintangnya persegi dan mempunyai dinding ujung miring atau meruncing. Sel-sel trakeida akan mati setelah dewasa, pada saat dinding sel berlignin  saja yang tinggal. Semua trakeida memiliki dinding sel sekunder yang diletakkan mengikuti berbagai pola sesuai dengan kedewasaan bagian dimana trakeida itu berada (Hidayat, 1995).

Trakeida bersama parenkim menyusun xylem. Pada tanaman rendah dan trakeida dominan, tetapi pada tipe xylem yang kompleks juga ada serabut, pembuluh, parenkim kayu. Trakeida berfungsi sebagai penyalur dan penguat (Iserep, 1993)

2)         Serabut

Serabut pada xylem tersusun dari sel-sel yang mempunyai dinding lebih tebal. Kita mengenal adanya serat trakeid dan serat libriform. Serat trakeid mempunyai noktah-noktah terlindung, noktah ini apabila dibandingkan dengan noktah-noktah trakeid berupa noktah terlindung yang lebih tereduksi, sedangkan serat libiform mempunyai noktah-noktah yang sederhana dan berfungsi sebagai jaringan mekanik di dalam kayu (Hidayat, 1995).

Serat-serat pada xylem tersusun dari sel-sel yang mempunyai dinding (membran) lebih tebal. Serat-serat tersebut dapat berupa serat trakheid dan serat libiform (Iserep, 1993) :

a)   Serat trakheid, kebanyakan serat ini sulit dibedakan dari unsur trakheid. Biasanya, serat-serat ini mempunyai noktah-noktah terlindung. Dan bila dibandingkan dengan noktah pada trakheid, noktah pada serat ini lebih tereduksi.

b)   Serat libiform, mempunyai jenis noktah-noktah yang sederhana. Serat-serat tersebut mempunyai fungsi sebagai jaringan angkut dalam kayu. Adapun sel-selnya merupakan sel-sel yang telah mati.

3)      Parenkim kayu

Sel-sel parenkim merupakan komponen umum dari xylem pada kebanyakan tanaman. Sel-sel parenkim xylem bisa berdinding tipis atau berdinding tebal, sedangkan kayu sekunder sering kali berdinding lignin yang tebal. Parenkim kayu berfungsi sebagai cadangan makanan dan mungkin juga berhubungan dengan konduksi, baik langsung atau tidak langsung (Hidayat, 1995).

Parenkim pada xylem biasanya tersusun dari sel-sel yang masih hidup. Dijumpai pada xylem primer maupun sekunder. Pada xylem sekunder dijumpai dua macam parenkim, yaitu parenkim kayu dan parenkim jari-jari empulur. Pada parenkim kayu sel-selnya membentuk fusi unsur-unsur trakea yang sering mengalami penebalan sekunder pada dindingnya. Sel parenkim pada xylem berfungsi sebagai tempat cadangan makanan yang berupa amilum. Sedangkan parenkim jari-jari empulur mempunyai dua bentuk dasar, yakni sel-sel yang bersumbu panjang kearah radial dan sel-sel bersumbu panjang kearah vertikal (Nugroho, 2006).

2.2.2 Floem

Floem berfungsi mengangkut zat hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan. Floem tersusun atas pembuluh tapis, sel pengiring, serabut floem dan parenkim floem. Sel-sel pada pembuluh tapis saling berhubungan membentuk saluran tempat pengangkut zat-zat hasil fotosintesis. Sel pengiring berfungsi memberi makan dan mengatur aktivitas pembuluh tapis. Serabut floem sebagai penguat jaringan floem. Parenkim floem berfungsi menyimpan zat-zat , sepeti tepung, kristal, dan damar (Savitri, 2008).

Floem merupakan jaringan penangkut yang berfungsi mengangkut zat-zat makanan hasil fotosintesis dan mendistribusikannya dari daun ke bagian lain tanaman. Floem tersusun dari berbagai macam bentuk sel, baik sel hidup maupun mati. Unsur- unsur pada floem meliputi unsure tapis, sel pengiring, sel albumin, serat-serat floem dan parenkim floem (Nugroho, 2006).

Floem primer, sama dengan xylem primer berasal dari prokambium. Floem primer terdiri dari protofloem dan metafloem. Floem juga dapat dibedakan menjadi floem primer dan floem sekunder (Iserep, 1993).

Menurut perkembangannya, xylem maupun floem dapat dibedakan bagian primer (xyem primer dan floem primer) dan bagian sekunder (xylem sekunder dan floem sekunder). Bagian jaringan pembuluh primer berdiferensi ketika tubuh primer dibentuk dan jaringan yang menghasilkannya adalah prokambium. Bagian jaringan pembuluh sekunder merupakan hasil aktivitas kambium pembuluh  (Savitri, 2008).

 

2.3 Tipe-tipe berkas Angkut

      Berdasarkan jaringan pembuluh primer (sistem jaringan pembuluh yang terdapat dalam tumbuhan yang belum menghasilkan kambium pembuluh, jadi keadaannya primer) terdiri dari sejumlah berkas pembuluh yang berbeda-beda ukurannya. Posisi xylem dan floem dalam berkas atau disebut juga ikatan pembuluh sangat beragam (Hidayat, 1995).

Pada batang, susunan dan struktur jaringan pembuluh bermacam-macam. Pada tumbuhan dikotil, pembuluh merupakan lingkaran antara korteks dan empulur. Silinder tersebut terpisah oleh parenkim interfaskular. Jaringan pembuluh pada akar berbeda dengan dibatang, karena letak xylem yang  berselang-seling dengan floem. Pada batang, floem terletak disebelah luar xylem. Berdasarkan letak floem terhadap floem, maka ikatan berkas pembuluh dapat dibedakan menjadi beberapa (Hidayat, 1995) :

  1. Tipe radial yaitu pada akar, letak berkas xylem dan berkas floem bergantian, berdampingan, dan berada pada jari-jari tubuh yang berbeda.

Berkas pengangkut tipe radial merupakan berkas pengangkut dengan letak xylem dan floem bergantian menurut jari-jari lingkaran (Nugroho, 2006).

  1. Tipe kolateral yaitu letak xylem dan floem berdampingan, umumnya floem di sebelah luar xylem. Sedangkan bila antara xylem dan floem berdampingan langsung tanpa adanya kambium disebut koleteral terbuka.

Pada tipe ini, floem dan xylem berdampingan. Ada dua tipe, yaitu kolateral tertutup yang biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang monokotil dan kolateral terbuka yang biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang dikotil (Iserep, 1993).

  1. Tipe bikolateral yaitu susunan dari luar bisa menjadi floem luar, kambium, xylem, dan floem dalam.
  2. Tipe kosentris yaitu xylem dikelilingi floem atau sebaliknya. Bila floem mengelilingi xilem disebut kosentris amfikibral, misalnya pada batang tumbuhan Pterodophyta, sedangkan bila xylem mengelilingi floem disebut kosentris amfivasal, misalnya ditemukan pada beberapa dikotil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PRAKTIKUM

 

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum kali ini dilaksanakan pada hari 17 Senin Tanggal Mei 2010  jam 15.00-17.00  WIB Di Laboratorium Pendidikan Biologi B Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

           

3.2  Alat dan Bahan

3.2.1 Alat      

Adapun alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :

  1. Mikroskop binokuler                                          1   buah
  2. Gelas benda dan penutup                                  5   buah
  3. Kaca penutup                                                     5   buah
  4. Kuas                                                                   1   buah
  5. Pinset kecil                                                         1   buah
  6. Jarum preparat                                                    1   buah
  7. Silet                                                                    1   buah
  8. Pipet tetes                                                          1   buah

3.2.2 Bahan

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :

  1. Batang Lidah Buaya ( Aloe vera Linn)              1   Buah
  2. Batang Cabe (Capsium frustacens)                    1   Buah
  3. Batang jagung (Zea mays)                                 1   buah
  4. Batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis)1   buah
  5. Batang Terong ((Capsicum sp.) )                       1   buah
  6. Batang paku-pakuan (Pteridophyta)                  1   buah
  7. Batang Begonia                                                 1   Buah
  8. Batang Bayam                                                   1   Buah

 

 

3.3 Cara Kerja

  1. Dibuat preparat irisan batang Lidah buaya setipis mungkin dalam air, diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10, diperhatikan, diamati tipe berkas pengangkutnya, dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.
  2. Dibuat preparat irisan melintang batang jagung (Zea mays) setipis mungkin dalam air. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10 atau 10 x 40, diperhatikan jaringan-jaringan penyusun batangnya, diamati tipe berkas pengangkutnya, dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.
  3. Dibuat preparat irisan melintang batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) setipis mungkin dalam air. Diamati dibawah mikroskop perbesaran 10 x 10 atau 10 x 40, diperhatikan jaringan-jaringan penyusun batangnya, diamati tipe berkas pengangkutnya, dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.
  4. Dibuat preparat irisan melintang terong () setipis mungkin dalam air. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10, diamati tipe berkas pengangkutnya, dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.
  5. Dibuat preparat irisan melintang batang paku-pakuan (Pteridophyta) setipis mungkin dalam air. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10 atau 10 x 40, diamati tipe berkas pengangkutnya, dibuat gambar penampang melintang batang yang diamati.
  6. Dibuat preparat irisan melintang batang Bayam  setipis mungkin dalam air. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10, diamati tipe berkas pengangkutnya,
  7. Dibuat preparat irisan melintang batang begonia setipis mungkin dalam air. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10, diamati tipe berkas pengangkutnya.
  8. Dibuat preparat irisan melintang batang cabe (Capisium frustacens) setipis mungkin dalam air. Diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10, diamati tipe berkas pengangkutnya.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1  Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan

Keterangan

Gambar literatur

Batang lidah Buaya  ( Aloe vera Linn)

 

 

  1. Tipe konsentris amfivasal
  2. Berkas pengangkut teratur didalam lingkaran
  3. Penyusun :
    1. Epidermis
    2. Korteks
    3. Floem
    4. Kambium
    5. Xylem
    6. Empulur

 

 

(Fahn, 1991)

Batang jagung (Zea mays)

 

 

 

 

 

  1. Tipe kolateral tertutup
  2. Termasuk monokotil
  3. Berkas pengangkut tersebar
  4. Penyusun :
    1. Epidermis
    2. Korteks
    3. Floem
    4. Xylem

 

 

(Fahn, 1991)

Batang Bayam

 

 

  1. Tipe kolateral terbuka
  2. Termasuk dikotil
  3. Berkas pengangkut teratur didalam lingkaran
  4. Penyusun :
    1. Epidermis
    2. Korteks
    3. Floem
    4. Kambium
    5. Xylem
    6. Empulur

 

 

(Fahn, 1991)

Batang paku-pakuan (Pteridophyta)

 

 

 

 

  1. Tipe amfikibral
  2. Termasuk tumbuhan tingkat rendah
  3. Penyusun :
    1. Epidermis
    2. Korteks
    3. Berkas pengangkut (Floem mengelilingi xylem)
    4. Empulur

 

 

 

 

(Fahn, 1991)

Batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis)

 

 

 

  1. Tipe kolateral terbuka
  2. Termasuk dikotil
  3. Berkas pengangkut teratur didalam lingkaran
  4. Penyusun :
    1. Epidermis
    2. Korteks
    3. Floem
    4. Kambium
    5. Xylem
    6. Empulur
 

(Fahn, 1991)

 

Batang cabe (capisium frustacens)
  1. Tipe Bikolateral
  2. Termasuk dikotil
  3. Penyusunnya:
    1. Epidermis
    2. Korteks
    3. Floem
    4. Kambium
    5. Xylem
    6. Empulur
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Fahn, 1991)

 

Batang terong (Capsicum sp.)     
  1. Penyusunnya:
  2. EpidermiS
  3. Korteks
  4. Floem
  5. Kambium
  6. Xylem
  7. Empulur
 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Fahn, 1991)

Batang Begonia
  1. Penyusunnya:
  2. Epidermis
  3. Korteks
  4. Floem
  5. Kambium
  6. Xylem
  7. Empulur
 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Fahn, 1991)

 

4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini membahas tentang jaringan pengangkut yang terdiri dari jaringan floem dan xylem. Jaringan pengangkut floem dan xylem ini sangat berhubungan dengan perkembangan batang, baik perkembangan primer atau perkembanagan sekunder, batang suatu tanaman tersusun dari berberapa jaringan terdiri atas jaringan dermal (epidermis), jaringan dasar (parenkim), jaringan penyokong (kolenkim dan sklerenkim), serta jaringan yang merupakan pengangkut (floem dan xylem). Dengan melakukan pengamatan ini kita dapat mengetahui komponen penyusun batang-batang yang diamati meliputi tumbuhan dikotil atau monokotil bahkan tumbuhan tingkat rendah seperti pada paku-pakuan.

 

4.2.1 Lidah Buaya ( Aloe vera Linn)

Pada pengamatan sayatan tipis dengan perbesaran 10 x 10, dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur. Batang lidah buaya ini termasuk batang dikotil dan mempunyai berkas pembuluh tipe konsentris amfivasal dan berkas pengangkutnya berada teratur di dalam lingkaran.

Sistem jaringan pembuluh primer (sistem jaringan pembuluh yang terdapat dalam tumbuhan yang belum menghasilkan kambium pembuluh, jadi kebiasaan primer) terdiri dari sejumlah berkas pembuluh yang berbeda-beda ukurannya. Posisi xylem dan floem dalam berkas atau ikatan pembuluh beragam, diantaranya berkas pengangkut kolateral yaitu berkas pengangkut dimana letak xylem dan floem berdampingan, dalam hal ini letak floem di bagian luar atau di sebelah luar xylem (Hidayat, 1995).

Batang lidah buaya mempunyai berkas pembuluh tipe konsentris amvifasal yaitu terdapatnya kambium dalam berkas ini, yang berfungsi sebagai penghubung antara floem dan xylem. Selain itu dapat berperan dalam membentuk floem sekunder ke arah dalam (Sutrian, 1992).

Empulur biasanya terdiri dari parenkim yang dapat mengandung kloroplas. Bagian tengah empulur dapat rusak  diwaktu pertumbuhan, sering hal itu terjadi dibagian di daerah ruas, sementara didaerah buku empulur utuh (Hidayat, 1995).

 

4.2.2 Batang jagung (Zea mays)

Pada pengamatan sayatan tipis batang jagung (Zea mays) dengan perbesaran 10 x 10, dapat terlihat epidermis, korteks, floem, dan xylem. Batang jagung (Zea mays) ini termasuk batang monokotil dan mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral tertutup dan berkas pengangkutnya terletak tersebar.

Kekhususan yang utama pada kolateral tertutup ialah diantara pembuluh kayu dan pembuluh tapis tidak tedapat kambium. Dalam hal ini parenkim berfungsi sebagai penghubung diantara keduanya. Tiada jarang pula berkas pengangkut ini terletak dikelilingi oleh jaringan sklerenkim oleh karenanya disebut seludang sklerenkim (Sutrian, 1992).

Tipe kolateral yaitu letak xylem dan floem berdampingan, umumnya floem di sebelah luar xylem. Sedangkan bila antara xylem dan floem berdampingan langsung tanpa adanya kambium disebut koleteral terbuka (Hidayat, 1995).

Pada tipe ini, floem dan xylem berdampingan. Ada dua tipe, yaitu kolateral tertutup yang biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang monokotil dan kolateral terbuka yang biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang dikotil (Iserep, 1993).

 

4.2 3 Batang Cabe (Capsium frustacens)

Pada pengamatan sayatan tipis Batang Cabe (Capsium frustacens) dengan perbesaran 10×10, dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur. Batang cabe (Capsium frustacens) termasuk tipe bikolateral dan mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur di dalam lingkaran.

Epidermis pada batang adalah sel hidup yang mampu bermitosis, hal ini penting dalam upaya memperluas permukaan apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan sekunder. Korteks adalah kawasan diantara epidermis dan sel silinder pembuluh paling luar, korteks batang terdiri dari parenkim yang berisi kloroplas. Di tepi luar sering terdapat kolenkim dan sklerenkim. Batas antara korteks dan daerah pembuluh atau pengangkut tidak jelas karena sering tidak ditemukan endodermis apalagi pada batang yang masih muda (Hidayat, 1995).

 

4.2.4 Batang Paku-pakuan (Pteridophyta)

Pada pengamatan sayatan tipis batang paku- pakuan (Pteridophyta) dengan perbesaran 10 x 10, dapat terlihat epidermis, korteks, berkas pengangkut (floem mengelilingi xylem) dan empulur. Paku-pakuan termasuk tumbuhan tingkat rendah dan termasuk dalam tipe amfikibral.

Kekhususan berkas pengangkut pada paku-pakuan terdapat bagian yang konsentris yakni salah satu dari unsur jaringan pengangkut yang terletak di tengah-tengah sedang unsur yang ditengah itu, dalam hal ini xylem dikelilingi oleh floem (Sutrian, 1992).

Berkas pengangkut tipe kosentris merupakan berkas pengangkut dengan kondisi xylem dikelilingi floem maupun sebaliknya. Bila xylem berada di tengah dan floem mengelilinginya disebut ikatan pembuluh kosentris amphikribal. Sebaliknya, bila floem ditengah dan xylem mengelilinginya maka disebut ikatan pembuluh kosentris amphivasal (Nugroho, 2006).

 

4.2.5 Batang Bunga Sepatu (Hibiscus rosasinensis)

Pada pengamatan sayatan tipis batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dengan perbesaran 10 x 10, dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur. Batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) ini termasuk batang dikotil dan mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur di dalam lingkaran.

Epidermis pada batang adalah sel hidup yang mampu bermitosis, hal ini penting dalam upaya memperluas permukaan apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan sekunder. Korteks adalah kawasan diantara epidermis dan sel silinder pembuluh paling luar, korteks btang terdiri dari parenkim yang berisi kloroplas. Di tepi luar sering terdapat kolenkim dan sklerenkim. Batas antara korteks dan daerah pembuluh atau pengangkut tidak jelas karena sering tidak ditemukan endodermis apalagi pada batang yang masih muda (Hidayat, 1995).

Kekhususan yang utama pada kolateral terbuka adalah terdapatnya kambium dalam berkas ini, yang berfungsi sebagai jaringan penghubung antara floem dan xylem. Selain itu dapat berperan demikian besar dalam pembentukan pembuluh-pembuluh tapis sekunder ke arah luar dan membentuk pembuluh-pembuluh kayu. Kambium pada batang pada penampang melintang biasanya merupakan lingkaran yang kontinu (Sutrian, 1992).

Pada tipe ini, floem dan xylem berdampingan. Ada dua tipe, yaitu kolateral tertutup yang biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang monokotil dan kolateral terbuka yang biasa terdapat pada ikatan pembuluh batang dikotil (Iserep, 1993).

Empulur biasanya terdiri dari parenkim yang dapat mengandung kloroplas. Bagian tengah empulur dapat rusak  diwaktu pertumbuhan, sering hal itu terjadi dibagian di daerah ruas, sementara didaerah buku empulur utuh (Hidayat, 1995).

 

4.2.6     Batang Bayam

Pada pengamatan batang bayam ini menggunakan dengan perbesaran 10 x 10, dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur. Batang Bayamini termasuk batang dikotil.

Epidermis pada batang adalah sel hidup yang mampu bermitosis, hal ini penting dalam upaya memperluas permukaan apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan sekunder. Korteks adalah kawasan diantara epidermis dan sel silinder pembuluh paling luar, korteks btang terdiri dari parenkim yang berisi kloroplas. Di tepi luar sering terdapat kolenkim dan sklerenkim. Batas antara korteks dan daerah pembuluh atau pengangkut tidak jelas karena sering tidak ditemukan endodermis apalagi pada batang yang masih muda (Hidayat, 1995).

Batang bayam ini termasuk dikotil karena salah satunya Fungsi epidermis untuk melindungi jaringan di bawahnya. Pada batang yang mengalami pertumbuhan sekunder, lapisan epidermis digantikan oleh lapisan gabus yang dibentuk dari kambium gabus (Hidayat. 1995)

 

4.2.7     Batang Begonia

Pada pengamatan batang Begonia ini menggunakan dengan perbesaran 10 x 10, dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur.

Epidermis pada batang adalah sel hidup yang mampu bermitosis, hal ini penting dalam upaya memperluas permukaan apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan sekunder. Korteks adalah kawasan diantara epidermis dan sel silinder pembuluh paling luar, korteks btang terdiri dari parenkim yang berisi kloroplas. Di tepi luar sering terdapat kolenkim dan sklerenkim. Batas antara korteks dan daerah pembuluh atau pengangkut tidak jelas karena sering tidak ditemukan endodermis apalagi pada batang yang masih muda (Hidayat, 1995).

Empulur biasanya terdiri dari parenkim yang dapat mengandung kloroplas. Bagian tengah empulur dapat rusak  diwaktu pertumbuhan, sering hal itu terjadi dibagian di daerah ruas, sementara didaerah buku empulur utuh (Hidayat, 1995).

 

4.2.8     Batang Terong (Capsicum sp.)          

Pada pengamatan batang bayam ini menggunakan dengan perbesaran 10 x 10, dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur.

Epidermis pada batang adalah sel hidup yang mampu bermitosis, hal ini penting dalam upaya memperluas permukaan apabila terjadi tekanan dari dalam akibat pertumbuhan sekunder. Korteks adalah kawasan diantara epidermis dan sel silinder pembuluh paling luar, korteks btang terdiri dari parenkim yang berisi kloroplas. Di tepi luar sering terdapat kolenkim dan sklerenkim. Batas antara korteks dan daerah pembuluh atau pengangkut tidak jelas karena sering tidak ditemukan endodermis apalagi pada batang yang masih muda (Hidayat, 1995).

 

 

BAB V

KESIMPULAN

 

Kesimpulan yang dapat di ambil dari praktikum tentang jaringan pengangkut kali ini adalah sebagai berikut :

  1. Pada pengamatan sayatan tipis Lidah Buaya dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur.
  2. Pada pengamatan sayatan tipis batang jagung (Zea mays) dapat terlihat epidermis, korteks, floem, dan xylem. Batang jagung (Zea mays) ini termasuk batang monokotil dan mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral tertutup dan berkas pengangkutnya terletak tersebar.
  3. Pada pengamatan sayatan tipis batang Bayam  dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur. Batang Bayam ini termasuk batang dikotil dan mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur di dalam lingkaran.
  4. Pada pengamatan sayatan tipis batang paku- pakuan (Pteridophyta) dapat terlihat epidermis, korteks, berkas pengangkut (floem mengelilingi xylem) dan empulur. Paku-pakuan termasuk tumbuhan tingkat rendah dan termasuk dalam tipe amfikibral.
  5. Pada pengamatan sayatan tipis batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur. Batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) ini termasuk batang dikotil dan mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur di dalam lingkaran.
  6. Pada pengamatan sayatan tipis batang Terong dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur. Batang bunga Terong ini termasuk batang dikotil dan mempunyai berkas pembuluh tipe kolateral terbuka dan berkas pengangkutnya berada teratur di dalam lingkaran.
  7. Pada pengamatan sayatan tipis batang bunga Begonia dapat terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur.
  8. h.      Pada pengamatan sayatan tipis batang Cabe ( Capsium Frutacens) terlihat epidermis, korteks, floem, kambium, xylem dan empulur.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Fahn A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta : UGM Press

 

Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuha

n Berbiji. Bandung : ITB

 

Iserep, Sumardi. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Bandung : ITB

 

Savitri, sandi, Evika, MP. 2008. Petunjuk Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan (Anatomi Tumbuhan). Malang : UIN Press

 

Sutrian, Yayan Drs. 1992. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan Tentang Sel dan Jaringan. Jakarta : PT Rineka Cipta

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: