LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

PARENKIM

 

Dosen Pembimbing :

Evika Sandi Savitri, MP

Disusun Oleh :

Khoirul Mufid

10620092

 

 

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2010


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Jaringan parenkim merupakan bagian utama sistem jaringan dasar dan terdapat pada berbagai organ sebagai jaringan yang berkesinambungan seperti pada korteks dan empulur batang, korteks akar, jaringan dasar pada tangkai daun, mesofil daun, bagian buah yang berdaging, serta dalam jaringan pembuluh (xylem dan floem) (Savitri, 2005).

Pada tubuh primer parenkim berkembang dari jaringan meristem dasar. Disamping itu ada pula parenkim yang menjadi bagian dari jaringan pembuluh dan berkembang dari prokambium, pada tubuh sekunder parenkim berkembang dari kambium pembuluh serta kambium gabus (felogen) (Savitri, 2005).

Pada praktikum parenkim ini, akan diamati bagaimana macam-macam bentuk jaringan parenkim besrta fungsinya, Beberapa tanaman yang akan diamati jaringan parenkimnya diantaranya yaitu batang Enceng gondok (Eichornia crassipes), daun kaktus (Opuntia), daun bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis), kulit buah pisang (Musa paradisiaca), batang bunga kana (Canna indica).

 

1.2  Rumusan Masalah

Permasalahan yang ada pada laporan ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1        Bagaimana bentuk dari jaringan parenkim dan fungsinya ?

2        Apa zat penyusun yang menjadikan dinding sel parenkim menebal ?

3        Bagaimana letak parenkim pada berbagai oprgan tumbuhan ?

 

1.3  Tujuan

Tujuan dari dilakukannya praktikum ini adalah :

  1. Untuk mengamati dan menggambar berbagai macam bentuk jaringan parenkim menurut bentuk dan fungsinya.
  2. Untuk mengidentifikasi zat penyusun penebalan dinding sel parenkim.
  3. Untuk mengamati letak parenkim pada organ tumbuhan.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

2.1 Jaringan Parenkim

Jaringan Parenkim merupakan jaringan dasar yang terdapat diseluruh organ tumbuhan. Disebut sebagi jaringan dasar karena sebagai penyusun sebagian besar jaringan pada akar, batang, daun, bunga, buah dan biji. Ciri-ciri jaringan parenkim adalah (Anonymous, 2009)

a)       Terdiri dari sel-sel hidup yang berukuran besar dan berdinding tipis.

b)       Bentuk sel parenkim segi enam.

c)       Memiliki banyak vakuola.

d)       Mampu bersifat meristematik.

e)       Memiliki ruang antar sel sehingga letaknya tidak rapat.

Jaringan parenkim merupakan bagian utama sistem jaringan dasar dan terdapat pada berbagai organ sebagai jaringan yang berkesinambungan seperti pada korteks dan empulur batang, korteks akar, jaringan dasar pada tangkai daun, mesofil daun, bagian buah yang berdaging, serta dalam jaringan pembuluh (xylem dan floem). Pada tubuh primer parenkim berkembang dari jaringan meristem dasar. Disamping itu ada pula parenkim yang menjadi bagian dari jaringan pembuluh dan berkembang dari prokambium, pada tubuh sekunder parenkim berkembang dari kambium pembuluh serta kambium gabus (felogen) (Savitri, 2005).

Parenkim merupakan sel hidup yang memiliki bermacam-macam bentuk yang sesuai dengan fungsinya, karena merupakan jaringan yang hidup, sel parenkim masih dapat membelah meskipun telah dewasa, hal ini dikarenakan parenkim mempunyai peran penting dalam penyembuhan luka dan regenerasi (Hidayat, 1995).

 

 

 

2.2 Bentuk dan susunan sel parenkim

Seperti yang telah dijelaskan  diatas, parenkim mempunyai berbagai fungsi yang disesuaikan dengan bentuknya. Banyak sel parenkim yang bersegi banyak dan garis tengahnya dalam berbagai bidang hampir sama (isodiametris). Akan tetapi juga ada bentuk-bentuk lain seperti prismatis memanjang, bentuk tidak beraturan, bercabang-cabang berbentuk bintang (aktinenkim), dan parenkim yang bentuk dindingnya berlekuk-lekuk (lipatan). Dinding sel parenkim biasanya tipis, bervakuola besar dan protoplas yang hidup. Kadang-kadang dijumpai ruang antar sel, bahkan pada organ tertentu ruang antar selnya luas sehhingga dapat terisi udara dan menyebabkan organ tersebut menjadi ringan (Savitri, 2008).

Ruang antar sel yang terbentuk dalam parenkim bisa terjadi secara sizogen atau lizigen. Pembentukan ruang antar sel secara sizogen terjadi saat dinding primer dibentuk diantara dua sel anak yang baru, lamela tengah diantara kedua dinding baru hanya berhubungan dengan dinding primer sel induk dan tidak menyentuk lamela tengah antara dinding sel induk dan sel disebelahnya. Sebuah ruang kecil terbentuk ditempat hubungan lamela tengah dengan dinding sel induk. Bagian dinding sel induk yang berhadapan dengan ruang kecil tersebut menjadi rusak sehingga membentuk ruang antar sel yang dapat meluas dengan terbentuknya ruang antar sel yang sama pada sel sebelahnya. Ruang antar sel tersebut dilapisi oleh senyawa yang berasal dari lamela tengah. Ruang antar sel lisigen terbentuk dengan cara merusak sel utuh, contohnya pada ruang antar sel tumbuhan air (Hidayat, 1995)

2.3 Struktur dan isi sel parenkim.

Kebanyakan dinding sel parenkim memiliki dinding yang tipis, namun ada pula yang yang berdinding tebal seperti pada sel endosperm kurma dan kopi. Dalam dinding yang tebal itu tersusun hemiselulose sebagai cadangan makanan (Hidayat, 1995).

Berdasarkan fungsinya, parenkim digolongkan menjadi beberapa jenis, antara lain :

  1. Parenkim asimilasi, Terdapat pada bagian tubuh tumbuhan yang berwarna hijau. Pada daun bentuk parenkim asimilasi ada 2 macam, yaitu bentuk tiang yang disebut jaringan tiang dan bentuk bunga karang yang disebut jaringan bunga karang.
  2. Parenkim udara, Terdapat pada organ pengapung, misalnya pada daun Canna, empulur batang Juncus. Biasanya selnya membentuk jari-jari atau bintang. Sel parenkim yang mempunyai fungsi untuk menyimpan udara disebut aerenkim.
  3. Parenkim penimbun,  Sel-sel pada parenkim ini berisi cadangan makanan yang terdapat pada endosperm, daun lembaga, tuber/umbi, dan lain-lain.
  4. Parenkim air, Sel-sel parenkim terisi penuh dengan air untuk mempertahankan diri dari kekeringan.
  5. Parenkim pengangkut, Terdapat pada jaringan pengangkut (xilem, floem). Pada jaringan ini dinding parenkim dapat mengalami penebalan sekunder (Sumardi, 1993).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENGAMATAN

 

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan (anatomi tumbuhan) mengenai Jaringan Parenkim ini dilakukan pada hari Senin pada tanggal 19 April 2010 di Laboratorium Biologi Pendidikan B Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

 

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat-alat yang digunakan pada praktikum epidermis adalah :

  1. Mikroskop                                    1 buah
  2. Kaca preparat                                5 buah
  3. Deck glass                                     5 buah
  4. Pisau silet                                      1 buah
  5. Pipet tetes                                     1 buah
  6. Pinset                                            1 buah
  7. Air                                                 secukupnya

 

3.2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum epidermis ini adalah:

  1. Preparat daun kaktus (Opuntia sp.)
  2. Preparat batang Canna sp.
  3. Preparat daun bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis)
  4. Preparat kulit buah pisang (Musa sp.)
  5. Preparat batang enceng gondok (Eichornia crassipes)
  6. Preparat daun Jagung (Zea mays)
  7. Preparat Kacang tanah (Arachis hypogae)

 

 

 

3.3 Cara kerja

3.3.1 Pengamatan preparat daun kaktus (Opuntia sp.)

  1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
  2. Dibuat irisan setipis mungkin pada daun kaktus
    1. Diletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air,  kemudian ditutup menggunakan deck glass
    2. Ditunjukkan letak sel parenkim
    3. Ditunjukkan tipe sel parenkim
    4. Menggambar hasil pengamatan disertai dengan keterangan

3.3.2 Pengamatan preparat batang Canna indica

  1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
  2. Dibuat irisan setipis mungkin pada batang bunga kana (Canna indica)
    1. Diletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemudian ditutup menggunakan deck glass
    2. Ditunjukkan letak sel parenkim
    3. Ditunjukkan tipe sel parenkim
    4. Menggambar hasil pengamatan disertai dengan keterangan

3.3.3 Pengamatan preparat daun bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis)

  1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
  2. Dibuat irisan setipis mungkin pada daun bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis)
    1. Diletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemudian ditutup menggunakan deck glass
    2. Ditunjukkan letak sel parenkim
    3. Ditunjukkan tipe sel parenkim
    4. Menggambar hasil pengamatan disertai dengan keterangan

3.3.4 Pengamatan preparat kulit buah pisang (Musa paradisiaca)

  1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
  2. Dibuat irisan setipis mungkin pada kulit buah pisang (Musa paradisiaca)
    1. Diletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemudian ditutup menggunakan deck glass
    2. Ditunjukkan letak sel parenkim
    3. Ditunjukkan tipe sel parenkim
    4. Menggambar hasil pengamatan disertai dengan keterangan

3.3.5        Pengamatan preparat batang Genjer (Eichornia crassipes)

  1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
  2. Dibuat irisan setipis mungkin pada batang genjer
    1. Diletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemudian ditutup menggunakan deck glass
    2. Ditunjukkan letak sel parenkim
    3. Ditunjukkan tipe sel parenkim
    4. Menggambar hasil pengamatan disertai dengan keterangan

3.3.6        Pengamatan Preparat batang Kacang Tanah (Arachis hypogae)

  1. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
  2. Dibuat irisan setipis mungkin pada batang kacang tanah
  3. Diletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemudian ditutup menggunakan deck glass
  4. Diamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10
  5. Ditunjukkan letak sel parenkim
  6. Ditunjukkan tipe sel parenkim
  7. 7.         Menggambar hasil pengamatan disertai dengan keterangan
    3.3.7 Pengamatam pada Batang jagung (Zea mays)
  8. Disiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan
    1. Dibuat irisan setipis mungkin pada batang jagung
    2. Diletakkan irisan tersebut pada gelas benda bersih dan telah ditetesi air, kemudian ditutup menggunakan deck glass
    3. Diamati preparat tersebut dibawah mikroskop dengan perbesaran 10 x 10
    4. Ditunjukkan letak sel parenkim
    5. Ditunjukkan tipe sel parenkim
    6. Menggambar hasil pengamatan disertai dengan keterangan

 

 

 

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil Pengamatan

Gambar pengamatan

Gambar literatur

Keterangan

 

 

 

 

 

 

 

Gb. Parenkim pada daun Kaktus

(Hidayat, 1995)

 

  1. Kloroplas
  2. Warna Hijau
  3. Parenkim udara dengan penyusun sel isodiametris
  4. Terdapat ruang antar sel
  5. Terdapat sel parenkim

 

 

 

 

Gb. Parenkim pada tangkai bunga kana

 

(Anonymous, 2010)

 

  1. ruang antar sel
  2. Parenkim Udara
  3. Terdapat jaringan pengankut

 

 

 

 

Gb. Parenkim pada daun bunga sepatu

 

 

 

 

 

 

 

(Anonymous, 2010)

 

  1. lumen sel
  2. ruang antar sel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gb. Parenkim pada kulit buah pisang

 

 

 

 

 

 

 

 

 (Anonymous, 2009)

 

1. ruang antar sel

2. butir-butir amilum

3. warna coklat

 

 

 

 

Gb. Parenkim pada Batang  genjer

 

 

 

 

 

 

 

 (Hidayat, 1995)

 

1. epidermis

2. ruang antar sel

3. parenkim isodiametris

4. warna hijau

 

 

 

 

 

 

 

 

Gb. Parenkim Kacang Tanah

   
 

 

 

 

 

 

 

 

Gb. Parenkim Jagung

   

 

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pengamatan preparat daun kaktus (Opuntia sp.)

Pada pengamatan dengan menggunakan preparat daun kaktus yang diiris melintang, dapat diketahui jaringan parenkim pada daun kaktus ini merupakan jaringan parenkim air yaitu sel parenkim yang mampu menyimpan air. Umumnya terdapat pada tumbuhan yang hidup didaerah kering (xerofit), tumbuhan epifit, dan tumbuhan sukulen.

Parenkim pada preparat daun kaktus yang kami amatai mempunyai bentuk seperti bunga dan bintang yang berlekuk dan melipat ke arah inti. Parenkim ini merupakan jenis dari parenkim lipatan.

Seperti yang dikatakan Kartasoepoetra (1991).Parenkim ini mempunyai bentuk dindingn yang berlekuk-lekuk (lipatan). Dinding sel parenkim biasanya tipis, bervakuola besar dan protoplas yang hidup.

4.2.2 Pengamatan preparat tangkai Canna sp.

Parenkim pada preparat tangkai Canna sp yang kami amati di bawah mikroskop 10×10 mempunyai bentuk bercabang bentuk bintang yang termasuk jenis parenkim udara atau disebut aerenkim dengan jenis sel penyusun bercabang seperti bintang dengan ruang antar sel yang besar. Pada pengamatn kami juga ditemukan  jaringan pengangkut dan ruang antar sel.

Parenkim udara biasanya terdapat pada organ pengapung, misalnya pada daun Canna, empulur batang Juncus. Biasanya selnya membentuk jari-jari atau bintang. Sel parenkim yang mempunyai fungsi untuk menyimpan udara disebut aerenkim (Tjitrosomo, 1983).

4.2.3 Pengamatan preparat batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis)

Parenkim pada preparat batang bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) yang kami amati di bawah mikroskop dengan pembesaran 10×10 mempunyai bentuk lumen sel yang besar dan dikelilingi oleh sel parenkim yang bulat besar dan bertotol-totol. Parenkim ini termasuk jenis parenkim udara dengan type isodiametris.

Sel parenkim yang mempunyai fungsi untuk menyimpan udara disebut aerenkim. Sel ini terbentuk dengan cara merusak sel utuh atau disebut juga lizogen (Fahn, 1991).

4.2.4 Pengamatan preparat kulit buah pisang (Musa sp.)

Parenkim pada preparat kulit buah pisang (Musa sp.) yang kami amati di bawah mikroskop dengan pembesaran 10×10 mempunyai bentuk lumen sel yang besar dan dikelilingi oleh sel parenkim yang berbentuk tidak beraturan seperti karang dan berwarna coklat. Parenkim ini termasuk jenis parenkim bunga karang.

Parenkim bunga karang termasuk parenkim asimilasi, Terdapat pada bagian tubuh tumbuhan yang berwarna hijau. Pada umumnya bentuk parenkim asimilasi ada 2 macam, yaitu bentuk tiang yang disebut jaringan tiang dan bentuk bunga karang yang disebut jaringan bunga karang. Pada kulit daun pisang, jenis parenkimnya merupakan jenis parenkim yang kedua (Sumardi, 1993).

4.2.5 Pengamatan Batang Genjer (Eichornia crassipes)

Parenkim pada preparat batang Genjer yang diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 10×40  mempunyai bentuk lumen sel yang besar dan dikelilingi oleh sel parenkim yang bulat kecil, tidak bertotol-totol dan rapat. Parenkim ini termasuk jenis parenkim udara dengan type isodiametris.

            Parenkim jenis ini mempunyai fungsi unntuk menyimpan udara dan menggapungkan organ tanaman tertentu atau disebut juga aerenkim. Parenkim udara memiliki berbagai bentuk antara lain isodiametris, bentuk seperti bintang, seperti karang dan lain sebagainya (Salisbury, 1995).

4.2.6 Pengamatan Kacang tanah (Arachis hypogae)

Pada pengamatan kami pada kacang tanah yang diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10×10  ditemukan sel parenkim dengan butir-butir tepung dan parenkim yang termasuk parenkim penimbun.

Hal ini sesuai dengan Sumardi (1993) yang menyatakan bahwa parenkim penimbun biasanya  terletak di bagian dalam tubuh, misalnya: pada empulur batang, umbi akar umbi lapis.

4.2.7 Pengamatan batang Jagung (Zea Mays)

            Pada pengamatan kami pada Batang jagung yang diamat dibawah mikroskop dengan perbesaran 10×40 dapat kita ketahui bahwa pada pengamatan kami terdapat sel parenkim yang merupakan bagian utama sistem jaringan dasar dan terdapat pada berbagai organ sebagai jaringan yang sinambung seperti korteks dan empulur batang, korteks akar, serta jaringan dasar pada tangkai daun dan mesofil daun. Dipengamtan kami juga terdapat jaringan pembuluh dan ruang antar sel. Ruang antar sel dapat terjadi secara sizogen atau lisigen.

Pembentukan  Ruang antar sel terjadi secara sizogen terjadi pada saat dinding primer dibentuk diantara dua sel antara yang baru, lamela tengah diantara kedua dinding baru berhunbungan hanya dengan dinding primer sel induk dan tidak menyentuk lamelatenganh antara dinding sel induk dan antra sel disebelahnya (Hidayat. 1995).

 

 

 

 

BAB V

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan pada praktikum jaringan parenkim ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Parenkim berfungsi sebagai jaringan meristematik sehingga berperan penting dalam penyembuhan luka dan regenerasi.
  2. Parenkim pada daun kaktus (Opuntia sp.) mempunyai bentuk seperti bunga dan bintang yang berlekuk dan melipat ke arah inti. Parenkim ini merupakan jenis dari parenkim lipatan.
  3. Parenkim pada tangkai Canna indica mempunyai bentuk bercabang seperti bintang yang termasuk jenis parenkim udara dengan jenis sel penyusun bercabang seperti bintang dengan ruang antar sel yang besar.
  4. Parenkim pada daun  bunga sepatu (Hibiscus rosasinensis) sel parenkimnya berisi kloroplas dan tersusun rapat seperti pagar dan disebut dengan jaringan tiang (parenkim palisade) yang berfungsi sebagai tempat penyelenggara fotosintesis.
  5. Parenkim pada kulit buah pisang (Musa sp.)  merupakan jenis parenkim penimbun,  dimana sel-sel pada parenkim ini berisi cadangan makanan yang biasa  terdapat pada bagian endosperm, daun lembaga, tuber/umbi, dan lain-lain.
  6. Parenkim pada batang genjer (Eichornia crassipes) termasuk jenis parenkim udara dengan type isodiametris.
  7. Parenkim pada batang jagung (Zea mays) termasuk jenis parekim udara.
  8. Parenkim pada batang Kacang Tanah termasuk parenkim dengan butir-butir tepung.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymous, 2009. Jaringan Parenkim. http://www. edukasi. Net. Diakses pada tanggal 13 April 2009.

Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan edisi ke tiga. Yogyakarta : UGM Press.

Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : Penerbit ITB.

Kartasapoetra, Ir. A.G. 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan (tentang

Sel dan Jaringan). Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Salisbury, Frank B. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Bandung : Penerbit ITB.

Savitri, Evika Sandi. Sp. Mp. Struktur Perkembangan Tumbuhan (Anatomi

Tumbuhan. Malang : UIN Press.

Sumardi, Issrep. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta :

UGM Press.

Tjitrosomo, Siti Sutarmi. Prof. Dr. Ir. H. 1983. Botani Umum 1. Bandung :

Angkasa.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: