laporan praktikum- daun

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

DAUN

Dosen Pembimbing :

Evika Sandi Savitri, MP

Disusun Oleh :

Khoirul Mufid

10620092

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG

2010

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Tumbuhan bukanlah hal asing lagi bagi kita semua, kita hidup membutuhkan tumbuh-tumbuhan, baik untuk dikonsumsi atau sebagai penyeimbang bumi, karena tanpa tumbuh-tumbuhan bumi ini akan sangat panas. Salah satu bagian dari tumbuhan adalah daun, dimana daun mampu berfotosintesis dan akan menghasilkan makanan sendiri bagi tumbuhan tersebut. Oleh karena itu sinar matahari sangat diperlukan dalam membantu proses fotosintesis. Selain itu diperlukan juga adanya klorofil, karbondioksida dan juga air (Iserep, 1993).

Daun merupakan alat yang penting bagi kelangsungan hidup tumbuhan, sebab disitu terjadi proses fotosintesis yang akan menghasilkan makanan bagi tumbuhan. Hasil fotosintesis akan didistribusikan ke seluruh organ untuk pertumbuhan dan perkembangan. Daun tidak seperti organ lain dari tumbuhan karena umumnya bersifat sementara. Untuk fotosintesis diperlukan sinar dan klorofil serta CO2 dan H2O sebagai bahan baku, dengan demikian posisi daun mempengaruhi strukturnya. Selain itu pengaruh lingkungan yang lain seperti ketersediaan air, adanya kadar garam yang tinggi dalam air disekitar tumbuhan juga berpengaruh terhadap struktur luar dan dalam dari daun (Savitri, 2008).

Baik dari segi morfologi maupun anatomi, daun merupakan organ yang amat beragam. Struktur jaringan pembuluh dalam tangkai dan tulang daun utama biasanya mirip dengan dalam batang. Ciri paling penting dalam daun adalah bahwa pertumbuhan apeksnya segera terhenti (Hidayat, 1995).

Dalam praktikum ini kita akan mengamati berbagai macam daun sehingga kita mampu mengamati dan mengidentifikasi tentang macam jaringan penyusun daun monokotil dan dikotil, membandingkan ciri-ciri khusus yang terdapat pada jaringan penyusun baik pada daun monokotil maupun pada daun dikotil, serta mengamati anatomi jaringan penyusun daun yang dihubungkan dengan adaptasi lingkungan tumbuhan.

1.2  Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari praktikum kali ini adalah :

  1. Bagaimana mengamati dan mengidentifikasi macam jaringan penyusun daun monokotil?
  2. Bagaimana mengamati dan mengidentifikasi macam jaringan penyusun daun dikotil?
  3. Bagaimana membandingkan ciri-ciri khusus yang terdapat pada jaringan penyusun daun monokotil dan dikotil?
  4. Bagaimana mengamati anatomi jaringan penyusun daun yang dihubungkan dengan adaptasi lingkungan tumbuhan?

 

1.3  Tujuan

Tujuan dari praktikum kali ini adalah :

  1. Mengamati dan mengidentifikasi macam jaringan penyusun daun monokotil.
  2. Mengamati dan mengidentifikasi macam jaringan penyusun daun dikotil.
  3. Membandingkan ciri-ciri khusus yang terdapat pada jaringan penyusun daun monokotil dan dikotil.
  4. Mengamati anatomi jaringan penyusun daun yang dihubungkan dengan adaptasi lingkungan tumbuhan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian Daun

Istilah bagi seluruh daun pada tanaman adalah phyllom. Namun, dikenal juga istilah daun hijau, katafil, hipsofil, kotiledon (keping biji), profil dan lain-lain. Daun hijau berfungsi khusus untuk fotosintesis dan biasanya berbentuk pipih mendatar sehingga mudah memperoleh sinar matahari dan gas CO2. katafil adalah sisik pada tunas atau pada batang dibawah tanah dan berfungsi sebagai pelindung atau tempat penyimpan cadangan makanan. Daun pertama pada cabang lateral disebut prophyll, pada monokotil hanya ada satu helai prophyll, pada dikotil ada dua helai. Hipsofil berupa berbagai jenis brakte yang mengiringi bunga dan berfungsi sebagai pelindung. Kadang-kadang hipsofil berwarna cerah dan berfungsi serupa dengan mahkota bunga. Kotiledon merupakan daun pertama pada tumbuhan (Hidayat, 1995).

Daun merupakan alat yang penting bagi kelangsungan hidup tumbuhan, sebab disitu terjadi proses fotosintesis yang akan menghasilkan makanan bagi tumbuhan. Hasil fotosintesis akan didistribusikan ke seluruh organ untuk pertumbuhan dan perkembangan. Daun tidak seperti organ lain dari tumbuhan karena umumnya bersifat sementara. Untuk fotosintesis diperlukan sinar dan klorofil serta CO2 dan H2O sebagai bahan baku, dengan demikian posisi daun mempengaruhi strukturnya. Selain itu pengaruh lingkungan yang lain seperti ketersediaan air, adanya kadar garam yang tinggi dalam air disekitar tumbuhan juga berpengaruh terhadap struktur luar dan dalam dari daun (Savitri, 2008).

Daun terbagi menjadi daun tunggal dan daun majemuk. Pada daun majemuk terdapat sejumlah anak daun yang melekat pada tangkai dun atau panjangannya. Sumbu bersama itu disebut rakis. Jika anak daun muncul disisi lateral dari rakis, daun disebut majemuk bersirip, dan kalau semua anak daun muncul di ujung rakis yang amat pendek sehingga dapat dikatakan melekat di ujung tangkai daun bersama, maka daun seperti itu disebut daun majemuk menjari (Tjitrosoepomo, 1993).

2.2 Histologi Daun

Daun yang lengkap terdiri atas helai daun (lamina), tangkai daun (petiolus), dan pelepah daun (vagina). Bentuk dan ukuran daun berbiji sangat bervariasi. Seperti halnya batang dan akar, daun juga tersusun atas beberapa sistem jaringan yaitu jaringan pelindung, jaringan dasar yang menyusun mesofil daun, jaringan pengangkut (Savitri, 2008).

Seperti pada akar dan batang, daun terdiri dari sistem jaringan dermal, yakni jaringan epidermis, jaringan pembuluh dan jaringan dasar yang disebut mesofil. Karena daun biasanya tidak mengalami penebalan sekunder, epidermis bertahan sebagai sistem dermal, namun pada sisik tunas yang bertahan lama ada kemungkinan dibentuk periderm (Hidayat, 1995: 198).

2.2.1   Epidermis

Sifat terpenting daun adalah susunan selnya yang kompak dan adanya kutikula dan stomata. Stomata bisa ditemukan dikedua sisi daun (daun amfistomatik) atau hanya di satu sisi yakni disebelah atas atau adaksial (daun epistomatik) atau lebih sering disebelah bawah atau sisi abaksial (daun hipostomatik). Pada daun lebar yang terdapat di kelompok dikotil, letak stomata tersebar. Pada monokotil dan Gymnospermae, stomata sering tersusun dalam deretan memanjang yang sejajar dengan sumbu daun. Sel penutup pada stomata dapat berada ditempat yang sama tingginya, lebih tinggi atau lebih rendah dari epidermis (Hidayat, 1995).

          (Fahn, 1991)

  Gambar anatomi daun

Dinding sel epidermis mengalami penebalan yang tidak merata. Dinding sel yang menghadap keluar umumnya berdinding lebih tebal, dapat terdiri dari lignin, tetapi penebalan itu umumnya terdiri dari kutin. Penebalan kutin ini membentuk lapisan kutikula yang tipis atau tebal. Sel-sel epidermis daun tidak mengandung kloroplas kecuali pada sel penutup dan epidermis daun tumbuhan yang hidup tenggelam dalam air. Stomata berguna sebagai jalan pertukaran gas pada tumbuhan dan sebagai pengatur besarnya transpirasi (Savitri, 2008).

Epidermis daun terdapat dipermukaan atas disebut epidermis atas (epidermis adaksial atau epidermis ventral) maupun dipermukaan bawah disebut epidermis bawah (epidermis abaksial atau epidermis dorsal). Umumnya epidermis terdiri dari 1 lapis sel tetapi adapula yang terdiri dari beberapa lapis sel (epidermis ganda, multiple epidermis). Jumlah lapisan sel epidermis bagian atas biasanya lebih banyak daripada permukaan bawah. Jumlah epidermis bawah berlapis banyak maka akan terdapat ruang substomata yang besar antara sel penutup dengan jaringan mesofil (Iserep, 1993).

2.2.2   Mesofil

Mesofil merupakan lapisan jaringan dasar yang terletak antara epidermis atas dan epidermis bawah dan di antara berkas pengangkut. Mesofil dapat tersusun atas parenkim yang relatif homogen atau berdifferensiasi menjadi parenkim palisade (jaringan tiang), jaringan pagar dan parenkim sponsa (jaringan bunga karang). Sesuai dengan fungsinya parenkim mesofil merupakan daerah fotosintesis terutama karena mengandung kloroplas (Savitri, 2008).

Bagian utama helai daun adalah mesofil yang banyak mengandung kloroplas dan ruang antarsel. Mesofil dapat bersifat homogen atau terbagi menjadi jaringan tiang (palisade) dan jaringan spons (jaringan bunga karang). Jaringan tiang lebih kompak daripada jaringan spons yang memiliki ruang antarsel yang luas. Jaringan tiang terdiri dari sejumlah sel yang memanjang tegak lurus terhadap pemukaan helai daun. Meskipun jaringan tiang nampak lebih rapat, sisi panjang selnya saling terpisah sehingga udara dalam ruang antarsel tetap mencapai sisi panjang, kloroplas pada sitoplasma melekat di tepi dinding sel itu. Hal tersebut mengakibatkan proses fotosintesis dapat berlangsung efisien (Hidayat, 1995).

Parenkim palisade merupakan sel-sel yang bentuknya silindris, tersusun rapat berjajar seperti pagar. Daun yang memiliki parenkim palisade di lapisan atas atau parenkim spongiosa di lapisan bawahnya disebut daun dosiventral atau bifasial. Apabila parenkim palisade terdapat di kedua sisi atau tidak dijumpai parenkim palisade pada kedua sisinya disebut daun isobilateral atau isolateral atau unifasial. Parenkim sponsa tersusun atas sel-sel yang bentuknya bervariasi, umumnya tidak teratur, bercabang-cabang, berisi kloroplas dan tersusun sedemikian rupa sehingga membentuk jaringan seperti bunga karang (sponsa) (Sutrian, 2004).

              Gambar jaringan palisade

            (fahn, 1991)

Jaringan spons terdiri dari sel bercabang yang teratur bentuknya. Hubungan antara sel dan sel lainnya terbatas pada ujung cabang itu. Dilihat dari hubungan antara sel-sel yang berdampingan maka jaringan spons memiliki kesinambungan horizontal yang sejajar dengan permukaan daun, sedangkan jaringan tiang sinambung hanya dalam arah tegak lurus terhadap permukaan (Fahn, 1991).

Menurut bentuknya parenkim dapat dibedakan sebagai berikut (Iserep, 1993) :

a)       Parenkim palisade adalah parenkim dengan bentuk sel panjang, tegak dan mangandung kloroplas. Contoh : mesofil daun.

b)      Parenkim bunga karang adalah parenkim dengan bentuk dan susunan selnya tidak teratur dan ruang antarsel relatif besar. Contoh : mesofil daun.

c)       Parenkim bintang adalah parenkim yang bentuknya seperti bintang, saling berhubungan di ujungnya sehingga banyak mempunyai ruang antarsel.

d)      Parenkim lipatan adalah parenkim yang dinding selnya mengalami pelipatan kearah dalam serta banyak mengandung kloroplas.

2.2.3   Sistem Jaringan Pengangkut

Pada daun terletak di dalam tulang daun beserta vena-venanya. Pada penampang melintang daun, berkas pengangkut ini terdiri dari 1 ikatan pembuluh, yang xylemnya terletak menghadap ke permukaan atas daun dan floemnya ke permukaan bawah daun. Pada tulang daun yang lebih kecil atau vena daun, berkas pengangkutnya dapat lebih sederhana dan kadang-kadang tidak sempurna terdiri atas xylem saja atau floem saja (Loveless, 1987).

Sistem jaringan pembuluh tersebar diseluruh helai daun dan dengan demikian menunjukkan adanya hubungan ruang yang erat dengan mesofil. Jaringan pembuluh membentuk sistem yang saling berkaitan, dan terletak dalam bidang median, sejajar dengan permukaan daun. Berkas pembuluh dalam daun biasanya disebut tulang daun dan sistemnya adalah sistem tulang daun (Hidayat, 1995).

Istilah sejajar bagi jalanya berkas pembuluh dalam sistem tulang sejajar hanyalah cara pendekatan saja, oleh karena itu di ujung dan pangkal daun semua berkas itu akan bertemu. Di antara berkas sejajar itu tampak cabang halus yang berpola jala dan menghubungkan semua berkas sejajar itu. Pola jala umumnya terdapat pada daun dikotil, sedangkan pola sejajar biasa ditemukan pada monokotil. Dalam pola berkas pembuluh percabangan akhir yang paling halus akan membatasi daerah mesofil kecil yang dinamakan areolus (Kimball, 1994).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

 

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum kali ini dilaksanakan pada hari Kamis Tanggal 24 Mei 2010 jam 15.00-17.00 WIB Di Laboratorium Pendidikan Biologi B Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

         

3.2  Alat dan Bahan

3.2.1 Alat      

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :

  1. Mikroskop majemuk                                          1   buah
  2. Gelas benda dan penutup                                  5   buah
  3. Kaca penutup                                                     5   buah
  4. Silet                                                                    1   buah
  5. Pipet tetes                                                          1   buah

3.2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :

  1. Daun kacang (Arachis hypogea)                       1   buah
  2. Daun jagung (Zea mays)                                    1   buah
  3. Daun talas (Colocasia)                                       1   buah

3.3 Cara Kerja

Cara kerja pada praktikum kali ini adalah :

  1. Di ambil preparat awetan irisan melintang daun kacang (Arachis hypogea). Di amati dibawah mikroskop, diperhatikan sel-sel epidermisnya, ada berapa lapiskah? Di amati lapisan yang tebal. Di perhatikan stomatanya, ditunjukkan berkas pengangkut yang terletak di bagian pusat, disebutkan tipenya. Diperhatikan juga jaringan endodermis yang membatasi korteks dan stele. Dihitung berapa lapis endodermisnya? Digambar sebagian secara rinci dengan melibatkan berkas pengangkutnya yang lengkap.
  2. Di ambil preparat awetan irisan melintang daun jagung (Zea mays). Di amati dibawah mikroskop, diperhatikan sel-sel epidermisnya, ada berapa lapiskah? Di amati lapisan yang tebal. Di perhatikan stomatanya, ditunjukkan berkas pengangkut yang terletak di bagian pusat, disebutkan tipenya. Diperhatikan juga jaringan endodermis yang membatasi korteks dan stele. Dihitung berapa lapis endodermisnya? Digambar sebagian secara rinci dengan melibatkan berkas pengangkutnya yang lengkap.
  3. Di ambil preparat awetan irisan melintang daun talas (Colocasia). Di amati dibawah mikroskop, diperhatikan sel-sel epidermisnya, ada berapa lapiskah? Di amati lapisan yang tebal. Di perhatikan stomatanya, ditunjukkan berkas pengangkut yang terletak di bagian pusat, disebutkan tipenya. Diperhatikan juga jaringan endodermis yang membatasi korteks dan stele. Dihitung berapa lapis endodermisnya? Digambar sebagian secara rinci dengan melibatkan berkas pengangkutnya yang lengkap

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1  Hasil Pengamata

Hasil pengamatan

Keterangan

Gambar literatur

Daun kacang (Arachis hypogea)        
  1. Epidermis atas
  2. Epidermis bawah
  3. Klorofil
  4. Stomata
  5. Trikoma berbentuk bintang
  6. Mesofil daun
  7. Jaringan spons (bunga karang)
  8. Jaringan palisade (tiang)

(Fahn, 1991)

Daun jagung (Zea mays)  

 

 

  1. Epidermis atas
  2. Epidermis bawah
  3. Mesofil daun
  4. Jaringan palisade (tiang) tidak tampak
  5. Jaringan spons (bunga karang) tidak tampak
  6. Jaringan pembuluh (tidak tampak)
  7. Stomata (tidak tampak)
  8. Klorofil
  9. Sel kipas

(Fahn, 1991)

 

Daun talas (Colocasia) 
  1. Epidermis atas
  2. Epidermis bawah
  3. Mesofil daun
  4. Jaringan palisade (tiang)
  5. Jaringan spons (bunga karang)
  6. Jaringan pembuluh
  7. Stomata
  8. Klorofil
  9. Trikoma

(Fahn, 1991)

 

4.2  Pembahasan

Praktikum kali ini adalah tentang daun dan jaringan penyusunnya baik pada daun monokotil dan daun dikotil. Sebelum kita melakukan praktikum ini kita harus mengetahui alat dan bahan yang akan di gunakan, bahan-bahan yang digunakan adalah daun kacang (Arachis hypogea), daun jagung (Zea mays), dan daun talas (Colocasia).

4.2.1  Daun kacang (Arachis hypogea)

Pada pengamatan daun kacang (Arachis hypogea) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, klorofil, stomata, trikoma berbentuk bintang, mesofil daun, jaringan spons (bunga karang) dan jaringan palisade (tiang).

Di bawah epidermis terdapat jaringan palisade, pada jaringan palisade tampak warna hijau karena pada jaringan ini terdapat banyak klorofil. Di bawah jaringan palisade terdapat jaringan pengangkut yang akan membawa hasil fotosintesis dari daun menuju keseluruh tubuh tumbuhan. Jaringan spons terdapat di bawah jaringan pengangkut dan di bawahnya terdapat epidermis bawah (Sutrian, 2004).

Jaringan epidermis pada daun mempunyai derivat berupa stomata. Stomata adalah berupa suatu pintu yang mempunyai dua sel penutup di kedua samping kanan dan kirinya. Stomata biasa berada pada bagian atas atau bawah daun. Stomata dapat berfungsi sebagai pintu masuk udara yang digunakan untuk fotosintesis dan udara yang dikeluarkan dari hasil fotosintesis. Stomata juga berfungsi dalam evaporasi untuk menjaga kestabilan air dalam tubuh tumbuhan (Hidayat, 1995).

Pada sekitar tulang daunnya, terdapat bagian yang menonjol, bagian yang menonjol ini adalah tulang daun yang berfungsi sebagai penopang helaian daun dan sebagai tempat jaringan angkut. Susunan anatomi jaringan daun setelah epidermis terdapat jaringan  mesofil daun yang tersusun atas jaringan palisade, jaringan spons dan jaringan pembuluh. Jaringan pembuluh tersusun atas floem dalam, xylem, kambium dan floem luar (Fahn, 1991).

4.2.2  Daun jagung (Zea mays)

Pada pengamatan daun jagung (Zea mays) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, klorofil, stomata, sel kipas, mesofil daun, jaringan spons (bunga karang), jaringan pembuluh dan jaringan palisade (tiang). Disini stomata, jaringan spons (bunga karang), jaringan palisade (tiang) dan jaringan pembuluh tidak tampak karena preparat yang di amati terlalu kecil.

Sistem jaringan pengangkut pada daun terletak didalam tulang daun beserta vena-venanya, pada penampang melintang daun, berkas pengangkut ini terdiri dari 1 ikatan pembuluh, yang xylemnya terletak menghadap ke permukaan atas daun dan floemnya ke permukaaan bawah daun (Savitri, 2008).

Jaringan setelah epidermis terdapat jaringan mesofil daun yang tersusun atas jaringan palisade (tiang), jaringan spons (bunga karang) dan jaringan pembuluh (xylem dan floem). Pada epidermis bawah daun terdapat sel-sel kipas. Sel-sel kipas terletak sejajar dengan permukaan epidermis luar, ukuran sel-sel kipas tidak sama panjangnya, karena itulah sel-sel ini disebut sel kipas seperti bentuknya yang menyerupai kipas. Jaringan epidermis pada daun monokotil sel-sel epidermis di lindungi oleh lapisan kutikula yang menyebabkan daun menjadi kaku, stomata sering tersusun dalam deretan memanjang yang sejajar dengan sumbu daun (Hidayat, 1995).)

Fungsi jaringan penyusun mesofil tidak lain secara besar untuk membantu proses fotosintesis. Sel-sel jaringan palisade terdapat banyak sekali kloroplas yang disebut sebagai warna fotosintesis. Rongga-rongga antara sel-sel jaringan palisade dan spons juga membantu memperlancar proses pertukaran udara yaitu oksigen dan karbondioksida. Hasil fotosintesis akan diedarkan oleh jaringan pengangkut yaitu floem sedangkan zat hara mineral untuk bahan fotosintesis dibawa oleh xylem dan semua saling bekerja sama (Loveless, 1987).

 

4.2.3    Daun talas (Colocasia)

Pada pengamatan daun talas (Colocasia) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, mesofil daun, jaringan palisade (tiang), jaringan spons (bunga karang), jaringan pembuluh, stomata, klorofil, dan trikoma.

Daun terdiri dari sistem jaringan dermal, yaitu diantaranya mesofil yang banyak mengandung kloroplas. Mesofil dapat bersifat homogen atau terbagi menjadi jaringan tiang (palisade) dan jaringan spons (bunga karang). Jaringan tiang lebih kompak dari pada jaringan spons yang memiliki ruang antarsel yang luas. Jaringan tiang terdiri dari sejumlah sel yang memanjang tegak lurus terhadap permukaan helai daun (Hidayat, 1995).

Jaringan epidermis adalah jaringan paling luar dari daun dan berfungsi untuk pelindung jaringan dibawahnya juga sebagai tempat keluar masuknya udara dan evaporasi, karena pada epidermis mempunyai stomata yang merupakan derivat epidermis. Epidermis terlapisi oleh lapisan yang tipis dan bening. Lapisan ini adalah lapisan lilin yang menyebabkan epidermis tidak mudah kemasukan air. Dari fenomena ini sering kita lihat bahwa jika air mengenai daun talas maka air itu akan tetap  menggumpal dan tidak terserap oleh daun dan akhirnya akan jatuh. Lapisan lilin inilah yang menyebabkan daun talas seolah-olah anti air (Loveless, 1987).

 

BAB V

KESIMPULAN

 

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari praktikum tentang daun kali ini adalah sebagai berikut :

  1. Pada daun kacang (Arachis hypogea) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, klorofil, stomata, trikoma berbentuk bintang, mesofil daun, jaringan spons (bunga karang) dan jaringan palisade (tiang).
  2. Pada daun jagung (Zea mays) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, klorofil, stomata, sel kipas, mesofil daun, jaringan spons (bunga karang), jaringan pembuluh dan jaringan palisade (tiang). Disini stomata, jaringan spons (bunga karang), jaringan palisade (tiang) dan jaringan pembuluh tidak tampak karena preparat yang di amati terlalu kecil.
  3. Pada daun talas (Colocasia) dapat terlihat epidermis atas, epidermis bawah, mesofil daun, jaringan palisade (tiang), jaringan spons (bunga karang), jaringan pembuluh, stomata, klorofil, dan trikoma.

DAFTAR PUSTAKA

Fahn A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta : UGM Press

Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung : ITB

Iserep, Sumardi. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Bandung : ITB

Kimball, John W. 1994. Biologi Edisi Kelima Jilid 2. jakarta : Erlangga

Loveless A. R. 1987. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik Jilid I. Jakarta : PT Gramedia Utama

Savitri, sandi, Evika, MP. 2008. Petunjuk Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan (Anatomi Tumbuhan). Malang : UIN Press

Sutrian, Yayan Drs. 2004. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan Tentang Sel dan Jaringan. Jakarta : PT Rineka Cipta

Tjitrosoepomo, Gembong. 1993. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta :  UGM Press

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: